Screen talk merupakan percakapan yang sehat, terbuka, dan terarah tentang teknologi, konten digital, maupun dunia maya secara umum. Mengatur screen time tanpa screen talk seperti memberi anak sebuah mobil tetapi tanpa mengajarkan cara untuk menyetir. Jelas sangat bahaya apalagi di era digital seperti sekarang ini. Niatnya ingin melindungi, tetapi kalau hanya fokus ke layar, maka anak malah dapat menjadi penasaran diam-diam dan mengeksplor sendiri tanpa adanya arahan.
Parenting di era digital seperti sekarang ini jelas bukan perkara yang gampang. Jaman sekarang, anak-anak bukan hanya tumbuh dengan mainannya, tetapi juga dengan tablet, ponsel, YouTube, dan TikTok. Kalau dulu PR sebagai orang tua adalah mengajarkan anak bermain layangan atau naik sepeda, sekarang lebih kompleks. Orang tua harus paham dunia digital, filter konten, dan algoritma.
Anak jaman sekarang lebih senang screen time. Parahnya, orang tua malah memberikan layar untuk menjelajah di dunia maya dengan dalih agar anak tenang. Yang dimaksud screen time adalah durasi anak bermain gadget. Sedangkan screen talk yaitu bagaimana dan tentang apa kita dapat mengobrol dengan anak soal dunia digital mereka.
Screen Time Penting Tapi Lebih Penting Screen Talk
Menjadi orang tua untuk anak di era digital memang tidak mudah. Orang tua tidak dituntut hanya sekedar belajar parenting saja, tetapi juga harus memahami dunia digital. Harus selalu mengikuti perkembangan dunia digital agar dapat menuntun dan membimbing anak sesuai dengan zamannya.
Parenting di era digital tidak bisa disamakan dengan parenting jaman dahulu. Mau tidak mau harus belajar tentang tidak hanya tentang screen time, tetapi harus belajar juga tentang screen talk. Berikut ini yang harus dipahami oleh orang tua tentang screen time dan screen talk.
- Screen time tidak hanya waktu
Ada batasan screen time yang ideal. Misalnya, pada anak usia di bawah 5 tahun hanya maksimal 1 jam per hari dan harus menonton konten berkualitas serta ditemani oleh orang tua. Tetapi faktanya, banyak anak yang lebih dari waktu ideal. Bahkan ada yang seharian di depan layar ponsel, tablet, laptop, atau televisi.
Bukan hanya masalah di durasinya, tetapi penting memperhatikan kontennya dan caranya berinteraksi. Banyak screen time berkualitas dan edukatif yang cocok ditonton oleh usia anak. Contohnya, menonton video sains, bermain game edukatif, atau bahkan belajar coding lewat platform khusus. Tetapi kalau screen time hanya menonton yang tidak jelas, maka harus segera dibatasi.
Sebagai orang tua sering hanya fokus pada berapa lama anak bermain gadget. Tetapi lupa untuk bertanya buat apa. Di sinilah dapat dimasukkan screen talk. Berikan pemahaman pada anak tentang yang ditontonnya dan berapa lama boleh menonton.
- Screen Talk Tidak Hanya Sekedar Mengobrol
Screen talk itu bukan sekedar mengobrol biasa, bukan ceramah, atau bahkan interogasi. Screen talk itu percakapan dua arah antara orang tua dan anak tentang hal-hal yang mereka lihat dan alami di dunia digital.
Baca juga: Kalau Marah Terus Nggak Mendidik, Lalu Gimana Dong Disiplin yang Efektif?
Screen talk itu sangat penting diterapkan di jaman ini karena dapat membuka wawasan orang tua tentang apa yang anak suka dan mungkin tidak disangka-sangka. Penting juga untuk membantu anak mempunyai kemampuan berpikir kritis terhadap konten dan mengajarkan nilai-nilai tanpa harus memaksa.
- Dunia digital bukan hanya sekedar tempat bermain
Dunia digital bagi anak-anak Gen Alpha sekarang bukan sekedar hiburan. Dunia digital merupakan bagian dari hidup mereka. Mulai dari belajar, bersosialisasi, bermain, hingga hobby, semuanya dapat dilakukan lewat layar. Maka parenting di era digital harus mau menyesuaikan dan bukan menolak.
Orang tua mau tidak mau harus masuk ke dunia digital anak. Menjadi teman diskusi, pembimbing, dan support system. Karena jika orang tua terlalu asing dan menolak teknologi, maka anak akan merasa bahwa mereka sendirian di dunia digital. Dan itu akan berbahaya.
- Digital Literacy harus diajarkan dari rumah
Digital literacy atau literasi digital merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Skill ini tidak akan otomatis muncul meskipun anak jago main gadget, tetapi harus dipelajari.
Anak bisa saja jago main game atau browsing, tetapi tetap rentan jika tidak memahami mana info yang benar atau hoax, cara menjaga privasi online, etika berkomentar di media sosial, bahaya cyberbullying, dan cara mengenali konten tidak pantas.
Semua itu harus diajarkan dan sebagai guru pertamanya adalah orang tua. Mulai saja dari hal-hal simpel, seperti mengajari anak agar tidak mudah percaya dengan informasi dari satu sumber. Jika anak sudah mendapat bekal digital dari rumah, maka anak akan bakalan lebih siap menghadapi tantangan digital di luar sana.
- Parental Control hanya sekedar tools bantu
Banyak orang tua yang kemudian memakai parental control tools. Mulai dari yang built in di ponsel hingga aplikasi pihak ketiga digunakan untuk menyaring tontonan anak. Menggunakan tools itu sudah bagus tetapi yang harus diingat bahwa itu hanya sebagai alat bantu saja dan bukan menjadi solusi utama.
Bukan tanpa alasan, tetapi anak-anak sekarang semakin pintar mencari cara untuk melakukan by pass filter. Parental control tidak bisa mendeteksi semua jenis konten. Tools ini tidak mengajarkan anak mengapa sesuatu itu berbahaya, hanya mencegah agar mereka menontonnya. Jadi, tetap penting untuk mendampingi dan memberikan edukasi pada anak. Gunakan parental control sebagai pelengkap dari screen talk dan parenting aktif, bukan sebagai pengganti.
- Orang tua menjadi role model digital yang pertama
Orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu jika ingin anak sehat digital. Anak-anak belajar bukan hanya dari yang diajarkan, tetapi juga dari yang dicontohkan. Maka sebagai orang tua, jadilah role model dengan menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan secara bijak dan seimbang.
Untuk menjadi role model bagi anak, dapat mencoba mulai dari membuat aturan bersama tentang bijak berdigital dan menyediakan waktu bebas gadget di rumah. Berikan contoh dan ajarkan anak untuk tidak asal memposting foto maupun video anak tanpa izin mereka.
- Memahami kebutuhan anak
Banyak konflik yang terjadi antara anak dan orang tua di jaman sekarang tentang gadget itu akar masalahnya hanya satu, yaitu kurang memahami satu sama lain. Di pikiran orang tua adalah anak kecanduan gadget. Sedangkan di pikiran anak adalah orang tua tidak mengerti. Ujung-ujungnya, anak dan orang tua saling menyalahkan.
Padahal yang dibutuhkan adalah rasa empati dan komunikasi. Orang tua harus belajar memahami permasalahan anak seperti mengapa anak suka banget main game online, mungkin itu cara bonding dengan temannya. Pahami juga mengapa anak lebih suka belajar melalui YouTube, mungkin lebih visual dan menarik. Kemudian, mengapa anak update story setiap saat, mungkin itu caranya mengekspresikan diri.
Dari beberapa hal tersebut, barulah dapat masuk ke pembicaraan tentang batasan, keamanan, dan nilai-nilai. Bukan dengan nada yang mengatur, tetapi mengajak bersama-sama.
Baca juga: Bagaimana Mengenali dan Mengatasi Hubungan yang Toxic?
- Screen talk merupakan investasi jangka panjang
Parenting di era digital itu bukan hanya mengontrol untuk hari ini saja. Tetapi juga tentang membekali anak untuk di masa depan, di mana dunia digital akan semakin kompleks.
Anak yang dibiasakan diajak ngobrol tentang teknologi, terus dilatih berpikir kritis, dan diajarkan nilai dan etika, akan lebih siap menghadapi tantangan teknologi di masa depan. Tantangan tersebut diantaranya AI yang semakin canggih, media sosial yang terus berubah, dunia kerja yang serba digital, dan tekanan sosial dari kehidupan online.
Screen talk mungkin tidak terlihat efeknya di hari ini. Parenting di era digital memang penuh tantangan. Harus menjadi orang tua yang tidak anti teknologi, tetapi justru dapat menjadi partner digital anak. Screen time itu penting, tetapi screen talk jauh lebih penting.

Leave a Comment