Bagaimana Mengenali dan Mengatasi Hubungan yang Toxic?

Dessy Ilsanti

June 18, 2025

Mengenali dan Mengatasi Hubungan yang Toxic

Hubungan yang toxic merupakan hubungan yang terjalin secara emosional, mental, bahkan fisik yang membuat terasa lelah, stres, hingga kehilangan jati diri. Di dalam hubungan ini, bukannya merasa dicintai, dihargai, dan didukung, tetapi malah merasa terus-terusan direndahkan, dikontrol, atau dimanfaatkan oleh orang lain. Hubungan toxic tidak hanya terjadi pada sebuah hubungan asmara atau pernikahan saja. Tetapi bisa saja terjadi dalam pertemanan, keluarga, bahkan lingkungan kerja.

Dalam kehidupan sosial dan emosional, relasi hubungan menjadi bagian penting yang dapat membentuk kepribadian seseorang. Bagaimana seseorang dapat bertumbuh dan bagaimana melihat kehidupan di luar dirinya. Tidak semua hubungan membawa pengaruh positif. Ada juga hubungan yang justru melemahkan secara emosional, mental, bahkan fisik. Hubungan seperti ini yang disebut sebagai hubungan toxic.

Hubungan yang toxic dapat membahayakan untuk diri kita. Hal yang membuatnya berbahaya adalah sifatnya sering tidak langsung terasa. Dampak dari hubungan ini akan berkembang secara perlahan dan sering disamarkan oleh rasa sayang, loyalitas, atau ketergantungan. Inilah yang tidak terlihat, tetapi memberikan dampak yang dahsyat bagi kehidupan kita.

Bagaimana Mengenali Hubungan yang Toxic

Hubungan yang toxic merupakan hubungan konsisten yang membuat salah satu atau kedua pihak merasa tidak aman, tidak dihargai, dan tidak bahagia. Kata toxic atau beracun dampaknya dapat terjadi terhadap kesehatan mental, emosional, dan fisik seseorang. Dalam hubungan yang seperti ini, ada ketidakseimbangan kekuasaan, kurangnya empati, manipulasi, hingga kekerasan verbal maupun fisik.

Beberapa orang dapat bertahan dalam hubungan yang toxic, meskipun sudah tahu itu tidak sehat dan memberikan dampak negatif dalam dirinya. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi hubungan toxic itu terus dipertahankan. 

Pelaku toxic sering membangun pola tarik ulur yang membuat korbannya merasa sangat dicintai, kemudian menyakitinya, lalu meminta maaf dan mengulanginya kembali. Kondisi ini menciptakan ketergantungan seperti kecanduan yang menjadi ketergantungan emosional.

Ada tipe orang yang takut merasa kesepian atau tidak punya siapa-siapa. Mereka memilih bertahan karena merasa lebih baik ada yang menemani dan takut sendirian meskipun itu harus menjalani hubungan yang menyakitkan.

Alasan lainnya mengapa seseorang bertahan dalam hubungan yang  toxic adalah memiliki harga diri rendah. Harga diri yang rendah akan membuat seseorang berpikir bahwa mereka memang pantas diperlakukan buruk dan merasa tidak pantas mendapatkan yang lebih baik.  

Baca juga: Mau Hubungan Awet? Komunikasi yang Jujur Lebih Seksi dari Kata ‘I Love You’

Korban yang terjebak dalam hubungan toxic sering percaya bahwa pelaku akan berubah. Apalagi setelah pelaku meminta maaf dan memberikan janji-janji manis. Korban menaruh harapan akan adanya perubahan pada pelaku yang sebenarnya mungkin sulit.

Dalam beberapa kasus, keluarga dan lingkungan sosial dapat memberikan tekanan untuk tetap bertahan, apalagi jika sudah menikah dan memiliki anak. Tekanan sosial atau keluarga ini akan memperburuk hubungan toxic dan membuat korbannya lebih menderita.

Dampak hubungan toxic bisa sangat dalam dan bertahan lama, terutama pada kesehatan mental. Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain kehilangan kepercayaan diri, rasa stres berkepanjangan, kecemasan, depresi, dan timbul trauma emosional. Akibatnya akan sulit membentuk hubungan sehat setelahnya dan gangguan fisik akibat stres seperti insomnia, migrain, atau gangguan pencernaan. 

Itulah sebabnya penting untuk menyadari adanya hubungan yang toxic sejak dini dan segera mengambil langkah untuk mengatasinya. Karena hubungan toxic yang dibiarkan akan memberikan dampak negatif, tidak hanya saat ini tetapi jangka panjang. Bahkan dampaknya dapat mempengaruhi seumur hidupnya.

Cara Mengatasi Hubungan yang Toxic

Jika ingin keluar dari hubungan yang tidak sehat ini, sangat penting untuk menyadari jika memiliki hubungan yang toxic dan selama ini terjadi di dalam hidupnya. Begitu juga dengan orang terdekatnya yang sebaiknya peduli jika terjadi hubungan toxic di sekitar lingkungannya. 

Hubungan toxic ini memang seharusnya tidak dibiarkan begitu saja. Berikut ini cara mengatasi hubungan yang toxic dan keluar atau memperbaiki hubungan tersebut jika memang masih memungkinkan.

  1. Menyadari dan mengakui

Langkah yang pertama adalah menyadari dan jujur pada diri sendiri bahwa hubungan yang sedang dijalani memang toxic. Akuilah bahwa sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Tida perlu menutupi atau mencari-cari alasan untuk membenarkannya.

Mungkin hal ini sulit, karena kadang adanya denial dan masih berharap semuanya akan berubah dengan sendirinya. Tetapi jika ingin adanya perubahan membutuhkan kesadaran dulu.

  1. Mencari dukungan

Ketika sedang menjalani hubungan yang toxic sebaiknya jangan jalan sendiri. Ceritakan apa yang sedang kamu alami ke orang terdekat yang dapat dipercaya, seperti sahabat, keluarga, atau bahkan konselor profesional. Adanya support system dan dukungan eksternal sangat penting agar kamu tidak merasa sendirian. 

  1. Menetapkan batasan

Memberikan batasan sangat penting saat sedang menjalani hubungan yang toxic. Mulai dari batasan yang kecil, seperti tidak membalas pesan saat sedang butuh ruang, hingga batasan besar seperti tidak menerima kekerasan dalam bentuk apapun. 

Jika menjadi korban dari hubungan toxic harus belajar bilang “tidak” sebagai langkah penting dalam melindungi diri. Jelaskan apa yang dianggap tidak bisa ditoleransi dan menegaskan bahwa kamu berhak atas rasa aman secara emosional. Kalau pelaku tidak bisa menghormati batasanmu, maka itu menjadi tanda besar bahwa hubungan tersebut memang tidak sehat.

Baca juga: Mindset Kamu Bukan Kutukan—Ini Cara Ngubah Pola Pikir Negatif Tanpa Paksaan

  1. Merencanakan jalan keluar

Kalau hubungan yang toxic itu sudah sampai pada titik tidak bisa diperbaiki dan merasa terus-menerus disakiti, maka maka segera keluar dari hubungan tersebut mungkin adalah pilihan terbaik. Keluar dari hubungan toxic itu bukan tanda lemah, tetapi tanda bahwa telah cukup kuat untuk memilih kebahagiaan untuk diri sendiri.

Sebelum keluar, harus mempersiapkan rencana yang aman seperti menabung diam-diam, menyimpan dokumen, akan tinggal dimana, siapa yang dapat membantu, dan hal-hal administratif jika sudah menikah. 

  1. Memutuskan dengan tegas

Ketika sudah mempunyai keyakinan kuat, segera akhiri hubungan yang toxic dengan tegas. Sebaiknya hindari negosiasi emosional, terutama jika pasangan atau pelaku mencoba memanipulasi dengan ancaman atau rayuan. Agar dapat sembuh, sangat dianjurkan untuk menghindari komunikasi dengan orang tersebut setelah putus. Blokir saja media sosial, nomor telepon, dan meminta bantuan teman jika diperlukan.

  1. Mempertimbangkan untuk memperbaiki

Jika kamu dan pasangan atau orang yang memberikan hubungan toxic masih sama-sama mau berubah, maka bisa untuk mencoba melakukan terapi atau konseling. Tetapi kemauan dan terapi ini harus datang dari dua belah pihak, bukan hanya kamu saja yang berusaha.

  1. Fokus menyembuhkan diri

Setelah keluar dari hubungan yang toxic, jangan langsung terburu-buru masuk ke hubungan baru. Berikan sedikit waktu untuk dirimu sendiri pulih, mengenali lagi siapa diri kamu sebenarnya, dan menyembuhkan luka-luka batin yang mungkin tidak disadari selama menjalani hubungan toxic.

Self love itu sebuah proses untuk menerima dan memaafkan diri sendiri, tidak hanya memaafkan orang lain yang telah berbuat salah pada dirimu.

Mengatasi hubungan yang toxic memang tidak mudah, apalagi jika sudah menyangkut pasangan hidup atau orang yang terdekat. Namun hubungan toxic memang harus diperbaiki jika bisa atau diputuskan. Semua itu agar kesehatan mentalmu terjaga. 

Leave a Comment