Parenting yang Lebih Manusiawi: Anak Bukan Proyek

Dessy Ilsanti

July 29, 2025

Parenting yang Lebih Manusiawi

Belajar parenting memang harus dilakukan terus-menerus karena dunia juga terus berubah. Dalam dunia modern yang serba cepat dan kompetitif ini, tidak jarang peran orangtua berubah yang harus mengarahkan anak menuju target sempurna. Mulai dari prestasi akademik, bakat, kepribadian, hingga masa depan yang ideal, semua tampak seperti tanggung jawab mutlak untuk orangtua. 

Namun, itu semua seringkali melupakan bahwa anak adalah manusia, bukan proyek dan orangtua juga manusia, bukan robot tanpa lelah maupun tanpa emosi. Terkadang sebagai orangtua dituntut untuk mempunyai anak yang baik menurut masyarakat. Begitu juga anak dituntut untuk menjadi pribadi yang lebih dibandingkan orang tuanya bahkan dari teman sebayanya.

Parenting yang lebih manusiawi merupakan pendekatan yang mengakui bahwa membesarkan anak bukan tentang mencetak kesuksesan, melainkan membangun hubungan yang penuh cinta, pengertian, dan saling tumbuh. 

Konsep ini juga sejalan dengan pendekatan positive parenting yang banyak dibahas oleh American Psychological Association, yang menekankan pentingnya hubungan emosional yang sehat antara orangtua dan anak.

Parenting Manusiawi untuk Membimbing Anak

Saat ini orangtua harus memahami parenting karena dunia sudah berubah. Apalagi di zaman yang serba digital ini, bimbingan dari orangtua pada anak harus semakin intensif. Berikut beberapa tips parenting manusiawi untuk membimbing anak dengan rasa cinta dan kasih sayang. 

  1. Anak bukan proyek tetapi sebagai individu

Banyak pola asuh tradisional maupun modern yang tidak sadar telah memperlakukan anak seperti proyek jangka panjang. Anak diberikan daftar target yang panjang seperti nilai tinggi, masuk sekolah favorit, juara lomba, sopan santun, sampai karier yang cemerlang. 

Pola pikir ini tidak sepenuhnya benar karena anak-anak bukan papan tulis kosong yang bisa digambar sesuai keinginan kita. Anak lahir dengan karakteristik, bakat, kecenderungan, bahkan mimpi mereka sendiri. Tugas orangtua bukan membentuk anak menjadi versi impian mereka, melainkan mendampingi anak untuk mengenal, menerima, dan mengembangkan dirinya sendiri.

Jika anak diperlakukan sebagai proyek, maka mereka merasa cinta orang tuanya bersyarat yang hanya hadir saat mereka berhasil. Anak kehilangan keaslian diri demi memenuhi ekspektasi dan mereka tumbuh dengan tekanan internal yang berat, bahkan kebingungan tentang siapa diri mereka sebenarnya.

Baca juga: Burnout atau Sekadar Lelah? Ini Tandanya Anda Perlu Rehat Mental

Parenting yang manusiawi mengajarkan bahwa anak berhak punya jalan hidupnya sendiri, berhak gagal, berhak memilih, dan berhak menjadi pribadi yang otentik, bukan replika keinginan orangtua.

Penelitian tentang attachment juga menunjukkan bahwa kualitas hubungan emosional jauh lebih berpengaruh terhadap perkembangan anak dibanding sekadar pencapaian prestasi, sebagaimana dijelaskan dalam teori yang dikembangkan oleh John Bowlby.

  1. Orang tua bukan robot

Di sisi lain, tuntutan untuk menjadi orangtua sempurna juga semakin berat. Saat ini sebagai orangtua harus selalu mempunyai kesabaran setiap saat, tidak pernah marah, harus selalu tahu jawaban setiap pertanyaan anak, dan tidak pernah merasa lelah, frustrasi, atau menyerah.

Padahal, orangtua adalah manusia. Sebagai orangtua juga punya batasan energi, punya luka masa lalu, dan punya hari-hari buruk. Mengharapkan orangtua menjadi robot pengasuhan hanya akan membuat orangtua tertekan secara emosional, merasa bersalah berlebihan saat gagal, mengalami burnout, dan kelelahan ekstrem dalam mengasuh.

Parenting yang manusiawi mengajarkan bahwa mengakui kelelahan, meminta bantuan, bahkan membuat kesalahan adalah bagian normal dari perjalanan menjadi orangtua.

Menjaga kesehatan mental orangtua juga menjadi perhatian penting dalam panduan kesehatan keluarga dari World Health Organization.

  1. Ciri parenting yang manusiawi

Ciri parenting yang manusiawi antara lain adalah yang pertama, berbasis hubungan bukan target. Fokus utamanya adalah memperkuat hubungan emosional yang sehat dan bukan sekadar mencapai hasil tertentu. Kedua, menerima anak apa adanya. Bukan berarti menerimanya secara pasrah, tetapi menyadari bahwa setiap anak unik dengan ritme dan jalannya sendiri.

Ketiga, mengakui emosi sendiri dan emosi anak. Baik orangtua maupun anak berhak merasa marah, sedih, kecewa, maupun bahagia dan semua emosi itu wajar. Keempat, fleksibel dan adaptif. Tidak ada satu pun metode parenting yang cocok untuk semua anak. Parenting yang manusiawi menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan dan perkembangan anak.

Terakhir, menghormati batasan diri. Orangtua mempunyai hak untuk istirahat dan berhak mengatakan kalau membutuhkan waktu, tanpa merasa bersalah.

  1. Pentingnya parenting yang manusiawi 

Dengan menerapkan parenting yang manusiawi, maka anak akan merasa diterima dan dicintai tanpa syarat. Anak-anak tidak perlu membuktikan nilai dirinya untuk mendapatkan cinta yang akan membangun harga diri yang sehat. Anak tumbuh menjadi pribadi yang autentik. Mereka berani menjadi diri sendiri dan bukan bayangan ekspektasi orang lain.

Parenting yang manusiawi akan membuat hubungan orangtua dan anak menjadi lebih kuat. Dengan hubungan emosional yang sehat, maka anak lebih terbuka, lebih percaya, dan lebih mudah dibimbing oleh orangtuanya. Selain itu, orangtua akan lebih bahagia dan seimbang. Mengurangi tekanan untuk menjadi sempurna membuat perjalanan pengasuhan lebih ringan, penuh makna, dan lebih manusiawi.

  1. Tantangan dalam menerapkan parenting manusiawi

Mengubah mindset dari anak sebagai proyek menjadi anak sebagai manusia bukan hal yang mudah. Ada banyak hambatan, seperti tekanan sosial dari tetangga maupun keluarga besar yang membandingkan anak, standar kesuksesan yang sempit dalam masyarakat, luka pengasuhan masa kecil milik orang tua yang belum sembuh, dan kurangnya dukungan emosional yang praktis dalam membesarkan anak.

Kunci menghadapi tantangan ini adalah sadar bahwa perubahan pola pikir membutuhkan waktu. Fokus pada perjalanan yang bukan hasil instan, mencari komunitas atau support system yang sejalan dan memberi ruang untuk diri sendiri bertumbuh, belajar, maupun memaafkan kesalahan juga dapat dilakukan oleh orangtua.

  1. Cara menerapkan parenting yang lebih manusiawi

Untuk penerapan model parenting yang lebih manusiawi antara lain adalah dengan memulai dari memahami diri sendiri. Bisa menanyakan pada diri sendiri tentang harapannya pada anak dan apakah ada luka masa kecil yang mempengaruhi cara dalam pengasuhan.

Kemudian mempraktekkan pada empati sehari-hari. Misalnya, saat anak melakukan kesalahan, jangan langsung mengoreksi, tetapi coba tanyakan apa yang anak rasakan dan apa kebutuhan emosionalnya yang tidak terpenuhi. Berikan ruang untuk perasaan anak, bahkan emosi yang negatif seperti marah atau kecewa. Juga ijinkan diri sendiri untuk jujur tentang emosi tanpa menyalahkan.

Baca juga: Depresi Tidak Selalu Tampak Sedih: Kenali Gejala Tersembunyinya

Ukuran kesuksesan sebagai orangtua bukan hanya akademik atau materi, melainkan anak mempunyai karakter yang baik, anak mampu mengenali maupun mengelola emosinya, dan nak berani mengejar hal yang membuatnya bahagia. Buatlah batasan yang sehat untuk parenting manusiawi. Namun, batasan dibuat dengan cinta dan dijelaskan dengan empati, bukan dipaksakan dengan kekerasan.

  1. Mengasuh anak sambil mengasuh diri sendiri sebagai orang tua

Parenting yang manusiawi tidak hanya tentang memperlakukan anak dengan penuh kasih, tetapi juga memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang. Sebagai orangtua akan belajar bahwa gagal dalam satu hari tidak berarti gagal sebagai orangtua, beristirahat itu wajar bahkan perlu, dan menjadi cukup baik lebih penting daripada menjadi sempurna.

Saat kita sebagai orang tua bisa memperlakukan diri sendiri dengan manusiawi, maka kita juga akan lebih mudah memperlakukan anak kita dengan cinta dan pengertian.

Parenting yang lebih manusiawi mengajak kita sebagai orangtua untuk meninggalkan paradigma anak sebagai proyek dan orangtua sebagai mesin pengasuhan. Memang perjalanan yang membutuhkan keberanian untuk mengenali kemanusiaan, mengakui ketidaksempurnaan, dan membangun hubungan yang lebih sejati dengan anak-anak. Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukanlah seberapa banyak prestasi yang mereka raih, melainkan seberapa dalam mereka merasa dicintai, diterima, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Leave a Comment