Anak yang sering dimarahi oleh orang tuanya diharapkan dapat mempunyai perilaku yang lebih baik. Tetapi yang sering terjadi malah sebaliknya, anak menjadi sulit untuk diatur dan menjadi lebih bandel. Apakah sikap orang tua yang memarahi anak ketika mereka berperilaku yang tidak baik atau berbuat salah itu tidak efektif untuk membentuk pribadi yang lebih baik?
Sebagian besar orang tua pasti pernah mengalami momen frustasi saat anak tidak mau mendengarkan atau berperilaku bandel. Dalam situasi tersebut, memarahi anak sering terasa menjadi reaksi yang alami, seperti kata-kata meluncur keras, ekspresi mengeras, dan suara meninggi. Kondisi ini wajar dan sering terjadi di setiap keluarga.
Sikap marah orang tua pada anak bisa jadi merupakan pola asuh turunan. Banyak orang tua yang membesarkan anak seperti mereka dulu dibesarkan. Jika dulu mereka sering dimarahi, maka tanpa sadar mereka akan mengulang pola tersebut pada anak-anaknya.
Anak yang Sulit Diatur Akibat Sering Dimarahi
Adanya tekanan sosial dari masyarakat yang menuntut agar seorang anak selalu mempunyai perilaku baik justru dapat menjadi pemicu orang tua untuk memarahi anaknya ketika mereka berbuat salah. Padahal, tidak semua anak yang sering dimarahi kemudian mau memperbaiki kesalahannya dan mempunyai perilaku yang baik.
Sebelumnya yang harus diketahui oleh orang tua yaitu akan terjadi sesuatu pada otak anak setelah memarahinya. Mungkin reaksinya tidak terlalu kelihatan tetapi efeknya dapat terjadi jangka panjang.
Saat anak dimarahi, bagian otak yang bernama amigdala menjadi aktif. Inilah bagian otak yang mengatur rasa takut. Alih-alih berpikir logis, otak anak akan masuk ke mode “fight, flight, or freeze“, melawan, kabur, atau membeku. Kondisi ini mempunyai pengaruh pada aktivasi sistem alarm otak.
Dampak yang terjadi berikutnya pada otak ketika anak sering dimarahi adalah penurunan fungsi prefrontal cortex. Prefrontal cortex adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas logika, pemikiran matang, dan pengendalian diri. Saat ketakutan mendominasi, maka bagian otak ini akan menjadi mati sementara. Artinya, otak anak tidak mampu memproses apa yang dikatakan oleh orang tua yang sedang memarahinya, bahkan jika nasihatnya bagus.
Ketika anak sering dimarahi akan menjadi pemicu pembentukan memori emosional negatif. Anak-anak merekam pengalaman emosional yang lebih dalam daripada usia orang dewasa. Memarahi anak membentuk asosiasi negatif pada mereka yaitu orang tua sebagai ancaman dan bukan orang tua sebagai tempat aman.
Hasil akhir dari orang tua yang sering memarahi anak, mereka akan menjadi sulit mendengar instruksi, merasa perlu melawan untuk mempertahankan diri, dan muncul perilaku lebih bandel atau nakal.
Memarahi anak bukan hanya soal efek yang sesaat saja. Jika anak selalu menerima kemarahan dan menjadi pola yang terus-menerus, maka anak bisa mengalami masalah regulasi emosi. Anak tidak dapat belajar bagaimana mengelola kemarahan atau kekecewaan dengan sehat. Efek jangka panjangnya, emosi mereka cenderung mudah meledak atau memendam emosi.
Anak dapat mengalami penurunan harga diri, seperti merasa bahwa dia sebagai anak yang buruk, dan malah bukan menyadari perilaku mereka yang salah. Kondisi ini akan membentuk citra diri negatif pada anak dan membentuk pribadinya yang justru menjadi semakin buruk.
Baca juga: Mengenal Parenting yang Lebih Manusiawi, Karena Anak Bukan Proyek dan Orangtua Bukan Robot
Ketika anak sering dimarahi oleh orang tuanya, maka otomatis hubungan akan menjadi renggang. Anak lebih sulit terbuka atau percaya pada orang tuanya, terutama saat menghadapi masalah serius di masa remaja. Padahal masa-masa remaja itu merupakan masa yang sangat kritis dan mereka sedang mencari jati diri dalam pembentukan kepribadiannya.
Kemudian, dampak jangka panjang dari orang tua yang sering memarahi anaknya adalah adanya resiko masalah mental. Seorang anak yang sering mengalami verbal abuse, termasuk dimarahi keras akan lebih rentan terhadap rasa depresi, kecemasan, dan perilaku agresif. Dampak-dampak tersebut sering tidak terpikirkan oleh orang tua ketika memarahi anaknya.
Mungkin sebagai orang tua mempunyai keinginan agar anaknya dapat mempunyai perilaku yang baik. Tetapi terkadang anak-anak melakukan perbuatan atau mempunyai perilaku yang kurang sesuai. Inilah yang menjadi pemicu bagi orang untuk memarahi anaknya. Namun sebenarnya ada beberapa alasan mengapa anak yang sering dimarahi justru akan semakin sulit diatur.
- Anak masuk mode bertahan
Saat anak dimarahi, maka otaknya akan menginterpretasikan suara keras, ekspresi marah, atau kata-kata kasar sebagai ancaman. Tubuhnya otomatis mengaktifkan sistem pertahanan diri yang dikenal sebagai fight, flight, or freeze.
Saat dalam mode ini, fungsi otak untuk berpikir logis dan belajar hal baru menjadi tertutup. Anak tidak dapat menyerap nasihat atau nilai yang coba ditanamkan, yang mereka rasakan hanya ingin bertahan dari serangan. Anak tidak belajar memperbaiki perilaku, justru memperkuat reaksi melawan atau menarik diri.
…Penelitian neurobiologis menunjukkan bahwa paparan terhadap parenting yang keras dapat mempercepat perkembangan amigdala dan berhubungan dengan masalah perilaku serta respon emosional yang kuat pada anak. Lihat penelitian tentang hubungan parenting keras dan amigdala anak
- Mengalihkan fokus dari kesalahan ke emosi negatif
Ketika anak dimarahi, fokus emosional mereka beralih dari apa yang salah menjadi marah, sedih, dan takut. Mereka tidak lagi memikirkan konsekuensi dari tindakannya, melainkan hanya tenggelam dalam rasa terluka atau ketakutan akibat bentakan atau amarah tersebut. Anak tidak belajar dari kesalahan, sehingga perilaku negatifnya berulang.
- Mengajari anak menyelesaikan dengan marah
Anak-anak belajar lebih kuat dari tindakan orang tua dibandingkan dari ucapan. Saat mereka melihat masalah yang diselesaikan melalui teriakan dan kemarahan, maka mereka akan belajar pola tersebut sebagai metode penyelesaian masalah. Anak menjadi lebih temperamental dan ketika ada konflik kecil mereka cenderung marah, membentak, atau bertindak agresif, sama seperti yang mereka pelajari dari orang tuanya.
- Merusak harga diri anak
Jika memarahi sering kali membawa pesan tidak langsung bahwa kamu salah atau bahkan kamu tidak cukup baik. Terutama jika amarah diarahkan ke kepribadian anak bukan ke perilakunya. Anak mulai mempelajari identitas negatif.
Harga diri yang rendah akan membuat anak lebih sulit termotivasi memperbaiki diri dan lebih rentan merasa tidak berharga, sehingga berpikir buat apa berusaha.
- Menghambat pengembangan keterampilan regulasi emosi
Anak-anak perlu belajar mengelola emosi mereka dengan cara yang sehat, seperti mengenali marah, kecewa, frustasi, lalu mengekspresikannya dengan aman. Ketika anak selalu dimarahi, maka mereka tidak diajarkan cara regulasi emosi yang sehat ini. Sebaliknya, mereka belajar bahwa marah harus dilampiaskan dengan keras dan emosi negatif itu harus dipendam atau meledak.
Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang impulsif, tidak sabaran, atau justru pemendam marah. Mereka juga sulit mengendalikan diri dalam situasi stres.
- Membuat anak tertutup dan tidak jujur
Anak-anak secara naluriah ingin menghindari rasa malu dan hukuman. Jika setiap kesalahan kecil selalu dibalas marah, maka anak belajar bahwa jujur itu berbahaya. Mereka lebih memilih berbohong, menutupi, atau menyembunyikan kesalahan daripada harus bertanggung jawab.
Baca juga: Burnout atau Sekadar Lelah? Ini Tandanya Anda Perlu Rehat Mental
Orang tua jadi kehilangan kesempatan untuk membimbing anak melalui kejujuran, karena anak lebih fokus menghindari hukuman daripada belajar dari kesalahan.
- Melemahkan motivasi untuk berperilaku baik
Anak-anak yang sering dimarahi menjadi terbiasa berperilaku baik hanya karena takut, bukan karena memahami nilai dari kebaikan itu sendiri. Ketika orang tua atau ancaman hukuman tidak ada, perilaku positif juga hilang.
Akhirnya mereka menjadi pribadi yang baik hanya kalau diawasi dan sulit mengembangkan sikap bertanggung jawab dari keinginan sendiri.
Anak yang sering dimarahi, dalam jangka panjang akan tumbuh dalam lingkungan penuh amarah. Tidak apa-apa memarahi anak, tetapi orang tua harus mempunyai batasan agar tidak memberikan dampak panjang pada anak.

Leave a Comment